Sabtu, 16 April 2016 0 komentar

Kematian si Cikal

Bismillahirrahmaanirrahiim...

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un..
Kurang lebih sejam yang lalu, si Cikal mati.

Ceritanya, tanggal 30 Maret 2016 si Eneng melahirkan 3 ekor anak kucing yang lucu-lucu. Warnanya mewakili 3 ekor kucing yang ada di rumah: si ganteng (hitam-putih), si Mehong (kuning), dan si Eneng (coklat kehitaman). Kami memanggil masing-masingnya dengan sebutan yang sama dengan para seniornya. Si Mehong junior, si Ganteng junior, dan si Eneng junior.

Beberapa hari kemudian, dari masing-masing pusar mereka yang belum puput, keluar darah. Si Mehong junior (yg kuning) akhirnya mati di usia kurang lebih seminggu. Sepengamatan saya, si Mehong junior ini paling banyak mengeluarkan darah dari area pusarnya. Penyebab pendarahannya saya pun kurang paham? Mencoba searching, tapi tidak ketemu. Kemudian, si Ganteng junior menyusul mati. Kemungkinan penyebabnya sama: pendarahan dari area pusar. Ditambah mereka berdua terlihat menjauh dari ibunya dan tidak mau menyusu. Menurut beberapa artikel yang ditemukan, memang anak kucing sangat rentan mati. Apalagi di usia awal-awal pasca dilahirkan. Setelah 2 ekor anak kucing itu mati, saya sangat berharap banyak pada si Eneng junior. Dia satu-satunya yang bertahan dan tampak normal meskipun sempat terjadi pendarahan di area pusarnya. Si Eneng junior akhirnya kami beri nama si Cikal, karena dia yang pertama dilahirkan.

Si Cikal tumbuh sehat, dan lintuh (gendut). Wajahnya mirip si Ganteng, tapi bulunya mirip si Eneng. Dia jadi anak kucing kesayangan yang setiap hari kami tengok dan elus-elus. Beberapa hati terakhir, saya sering ajak si Cikal tidur di pelukan saya, khususnya jika si eneng lagi main ke luar rumah. Kasian dia kedinginan, di musim hujan ini.

Tadi pagi, saya tengok si Cikal tampak lunglai dan kuyu di tambah tidak mau menyusu. Awalnya saya pikir dia masih mengantuk. Ternyata sampai siang dia masih begitu, ditambah suara mengeongnya jadi serak. Si Eneng (ibunya) sudah beberapa hari batuk-batuk dan bersin. Dugaan sementaranya, Si Cikal kena flu. Mungkin ketularan dari ibunya ditambah cuaca dan suhu yang memang bagus untuk virus Flu berkembang biak.

Sore saya cek dia lagi, kondisinya kelihatan makin parah, sudah irit suara,dan tampak sangat lemas. Menurut beberapa artikel, kucing flu bisa disembuhkan dengan memberinya madu dan vitamin untuk bayi ad-plex. Tapi jika anak kucing yang terkena flu akibatnya bisa fatal. Sepulang kerja, saya beri dia madu yang dicampur sedikit air. Memindahkannya ke tempat khusus dan diberi penerangan supaya suhunya hangat. Dia tidur dan tampak kesulitan bernapas di tambah cegukan. Dua jam kemudian saya beri dia air madu lagi. menurut sumber, kucing flu sebaiknya diberi madu setiap dua jam sekali. Dan inilah awalnya: Si Cikal tersedak.

Keluar air dari hidung dan mulutnya. Saya panik, khawatir airnya malah mengisi paru-parunya sehingga dia tidak bisa bernapas. Setelah tersedak itu, dia seperti bersin-bersin dan mengeluarkan banyak "ingus" dari hidungnya. Saya berusaha mengeluarkan "ingus-ingus" itu dari saluran napasnya. Setelah tersedak, kelihatan sekali dia kesulitan bernapas dan masih cegukan. Si Cikal sampai bernapas via mulut dan seolah "menjerit" kesakitan. Saya gak tega melihatnya, dan bodohnya saya malah semakin berusaha mengeluarkan "ingus-ingus" itu dari hidungnya. Supaya si Cikal bisa bernapas normal lagi. Inilah yang namanya sotoy karena panik! Saya ingin si Cikal sembuh.

kenyataan berkata sebaliknya. Si Cikal kesulitan bernapas dan lemas total. Saya tidak tau apalagi yang harus dilakukan. sampai akhirnya Si Cikal mati. Diduga, penyebab utamanya karena tersedak, bukan karena flu-nya. Dan yang menyebabkan dia tersedak adalah karena ke-sotoy-an saya. Sedih bukan main. Saya nangis melihat dia "mengeong" kesakitan, melihat dia menghadapi "sakaratul mautnya". Sekaligus merasa berdosa..karena saya menyebabkan dia tersedak. Cikal...usianya baru 18 hari. Selamat jalan Cikal..

kepada Si Eneng (ibunya), saya bener-bener minta maaf. Semua anak kamu pada akhirnya mati di usia bayi.



Sabtu, 19 Maret 2016 2 komentar

Medan-Bandung Jalur Darat

Bismillahirrahmaanirrahiim

“Uyuhan”. Kata itu yang sering saya denger ketika memutuskan untuk pulang ke Bandung via darat. Hampir semua orang pasti nanya, kok mau via darat? Jauh, cape, rempong,  dan yang pasti lamaa. Medan-Bandung via darat ditempuh (kalo lancar) kurang lebih 4 hari 3 malam.  Jawaban yang paling singkat dan simpel yang bisa saya jawab adalah: karena bawa kucing.  Iya...kucing. Si Oca dan dua ekor buah hatinya. My lovely bunny sweetheart, kucing cantik yang udah jadi soulmate di Medan. Wkwkw..alay ya? Biarin lah..

Namun, bisa bawa kucing sebenarnya Cuma bonus dari alasan saya yang sebenarnya. Beberapa bulan sebelum pulang ke Bandung, ide untuk menempuh perjalanan via darat belum muncul sama sekali. Ide itu baru muncul, ketika saya pulang backpackeran dari Aceh, tanggal 16 Mei 2015. Saya dan Teh Mia sempat mampir di Lhoksumawe dan bermalam di kerabat Teh Mia. Ketika di sana, Sang Ibu Empunya rumah bilang yang intinya: harus nyobain ke Bandung naik bis. Kata-kata beliaulah yang mengilhami saya untuk melakukan perjalanan nekat ini. Iya juga, sekalian bisa bawa Oca dan dua ekor buah hatinya. 

Di rentang waktu antara Mei dan Juni, saya  tiba-tiba teringat satu hal: Hei! Saya pernah meniatkan untuk menyusuri Sumatra dan melewati Bukit Barisannya. Niat yang baru kepikiran di kereta pada perjalanan pulang dari training beasiswa di Malang, pada pertengahan 2012 lalu. Padahal, itu hanya ucapan berandai-andai. Siapa yang menyangka, celotehan itu bisa terwujud. The power of words. Jadi merinding sendiri, ucapan adalah doa. Kita tidak tau perkataan mana yang akan Allah wujudkan. Alhamdulillah...

Ada beberapa PO bis yang menyediakan jasa perjalanan dari Medan ke Bandung. Yang paling terkenal adalah ALS (Antar Lintas Sumatra), kayaknya karena itu yang paling dulu ada. Selain ALS, ada beberapa PO bus yang lebih nyaman dan otomatis lebih mahal, misalnya PO Pelangi. Sebelumnya, saya sempat memesan ke PO Pelangi, tapi tiba-tiba saya “ditinggal”, gak bisa booking via telepon, dan banyak kesalahan informasi dari operator PO Pelanginya.  Dan lagi, sepertinya Cuma ALS yang menyediakan perjalanan lintas jalur barat (padang, jambi, palembang, sampai lampung). PO bus yang lain rata-rata melewati jalur lintas timur (lewat Riau), memang lebih cepat, tapi kayaknya tidak lebih seru dibanding lintas jalur barat. setau saya itu..

Perjalanan pertama terjauh dan terlama seorang diri. Saya pulang tanggal 17 Juni 2015, sehari sebelum Ramadhan yang jatuh tanggal 18 Juni. Dan ternyata...

bersambung
0 komentar

Merah Saga




Saat langit berwarna merah saga
Sayup, ada nada kenangan tiba-tiba mengecup keningnya
bersamaan dengan lompatan impuls listrik miliVolt yang menembus sel-sel syaraf usang. Berkas cahanya diam, tidak menunggu namun ditunggu.

dan kerikil perkasa berlarian
anak-anak kecil berlari, bermain pura-pura mati sambil senyum manis ditandu kawan. Mimpinya adalah hidup yang dibungkus tanah. Bersanding dengan burung dan kelinci putih di halaman penuh bunga liar. melambaikan tangan ia pada Ibu yang ikhlas merelakan kepergian.

menyusul laksana puluhan peluru, terbang bersama teriakan takbir
Memahami apa yang tidak bisa dibayangkan adalah kesiaan. tapi baginya semua sudah jelas sebelum dijelaskan. Akan ada suatu masa yang Ia tunggu akan datang. Entah dalam senyum atau tangis kegetiran. Kepercayaan sama seperti cinta. Harus selalu di tengok dan ditanyakan kabarnya? apakan ia masih di tempat yang sama dengan kesepakatan?

Semua menjadi saksi,
kesaksian…
akhir yang selalu diharapkan. Kesaksian akan mimpi yang tidak bisa disaksikan diri sendiri, Sampai tiba seorang malaikat mengambil semua kesempatan sambil memberikan kecupan hangat untuk seorang pejuang. Sambil mengajaknya terbang, meninggalkan kesaksian yang berkesan. disaksikan burung dan kelinci putih piaraan. Disaksikan mereka yang rindu menjadi bidadari. atau berharap helaian kelopak mawar merah saga mencuci yang pernah dikotori? Hingga ia mewangi sepadan kesturi, yang tak bisa tercium indra tubuh sendiri.
0 komentar

Hai Ruh! Episode 1: Kejujuran



Hai ruh! ….ini kali kedua aku mencoba berkomunikasi denganmu. Dengan pemilik jiwa yang tak tau siapa namanya?  Menyuarakan gelisah yang nantinya kau boleh sebut ini “alay”. Kita mungkin tidak pernah bertemu, atau saling tidak tahu? Atau sudah menduga-duga, karena mungkin selama ini kita sudah pernah bertemu? Wallahualam..

kali ini, sebelum apapun…ada hal yang ingin aku bahas: kejujuran. Ada yang mengganjal, yang membuat kita bertanya-tanya…Sudahkah kita jujur? Jujur pada apa/siapa yang sesungguhnya kita inginkan. Jujur pada apa/siapa yang tidak kita inginkan. Jujur pada masing-masing tentang siapa kita sebenarnya.Jujur pada sesuatu yang nantinya akan menjadi bagian dari kita selamanya, sudahkah? ia yang akan membersamai kita adalah diri kita sendiri. sebelum kamu, sebelum siapapun…orang pertama yang menuntut kejujuran kita adalah kita sendiri.

Jujur pada diri sendiri adalah hal yang membingungkan. Membedakan  kejujuran, mana yang berlandaskan nafsu atau berlandaskan iman? Lebih sulit lagi ketika kejujuran itu terkait denganmu. Karena, jika kita jujur, hati kita tidak mungkin benar-benar kosong. Mungkin ada satu nama yang diharapkan, dan nama lain yang datang namun tak diharapkan. Pun denganmu.

Aku tak tau, kamu ada di pihak yang mana dalam kejujuranku?
terlebih lagi, aku tak tau..akan berada di pihak mana aku dalam kejujuranmu?
Yang jujur diharapkan atau yang jujur tidak diharapkan? atau bahkan tidak termasuk keduanya?

Mungkin posisi kita akan berbeda di masing-masing jiwa. Terlepas dari itu semua, aku harap kita sama dalam satu hal. Untuk melepaskan semua kejujuran kita padaNya, Ya, pernikahan harus dilandasi dengan kejujuran. Kita akan membahas kejujuran ini nanti. Aku harap masing-masing kita harus menyiapkan hati tentang ini. Bersiap menerima atau justru bahagia saling menemukan.
Setelah kita saling jujur, selanjutnya adalah perjuangan.
Meleburkan kejujuran kita menjadi satu kejujuran yang sama: jujur bahwa kita mencintai-Nya, jujur bahwa NamaNya telah ada sebelum siapapun.Sebelum namamu, sebelum namaku, atau mungkin sebelum namanya? Pernikahan kita nanti, murni tentang kisah perjalanan juang kita menuju-Nya. Perjalanan yang menumbuhkan kejujuran baru, jujur yang khusyuk, jujur yang suci.jujur yang satu, yang memuat nama kita berdua.

Apakah ini terlalu ideal? Maafkan sebelumnya. Pertanyaan dan rasa penasaranlah yang membuatku menulis ini. Membahas kejujuran dengan kamu yang belum terjewantahkan. Yang aku tak tau, namanya? Maaf jika kamu tak berkenan. Aku berusaha jujur pada diri sendiri, padamu, dan pada-Nya.
terima kasih..sampai jumpa di dunia nyata :)
Minggu, 13 Maret 2016 0 komentar

27 things to do before you settle down

1. Travel with my BFF 
2. Learn to cook
3. Be financially independent
4. Face one of your biggest fears (Fall in love)
5. Live alone (mungkin ketika S2 di Australia?)
6. Accomplish a goal (dapet LPDP/ menerbitkan buku pembahasan soal)
7. Find your drink of Choice (gak ngerti apa maksudnya? heuheu :P)
8. Make the first move (email pemimpin2 negara, kemudian minta foto plus tanda tangannya?)
9. Challenge your self (on progress)
10. Take a road trip (jaman kuliah lapangan termasuk gak ya?)
11. Try a nice restaurant by yourself 
12. Live somewhere else (Medan, Cibinong)
13. Learn to drive manual (nyupir mobil?)
14. Find a new show and watch it all in one weekend (semacam drama/ reality show korea kah?)
15. Get fit (on progress)
16. Build something with your hands (Library for kids!)
17. Stay up until the sunrise
18. See your favorite artist live--> Bang Nicholas Saputra-nya susah ditemuin :(
19. Make a list of your books to read and then read them all (belum kebaca semua)
20. Learn to fight (belajar pencak silat).
21. Volunteer
22. Try a new hobby (menulis di Tumblr? memanah?olah raga?main gitar?)
23. Apply for your dream job (indonesia mengajar)
24. Keep a journal
25. Have a long conversation with a stranger 
26. Do something crazy and spontaneous (get lost in Yogya alone! Ini sih direncanain. wkwk)
27. Get to know yourself

list di atas, didapat dari salah satu situs yang inspiratif. Lupa, tahun lalu pernah nyalin ini di buku catetan. Setelah dibuka dan dianalisis lebih jauh, alhamdulillah sudah beberapa berhasil dicoret :) walaupun masih kurang dari setengahnya. Alhamdulillah.. Semoga taun ini, semua listnya bisa dicoret. Aamiin..
Masing-masing kita pastinya punya standar yang beda-beda tentang kesuksesan. Walaupun ini cuma iseng, tapi lumayan menginspirasi buat jadi tantangan diri pribadi, gak ada salahnya dicoba. dari semua list di atas: yang akan menjadi proses paling lama (bahkan kayaknya seumur hidup) kayaknya yang point nomor 27. Selamat berjuang mengalahkan diri sendiri :D!
Senin, 21 Desember 2015 0 komentar

Reportase SPI ke-2

Bismillahirrahmaanirrahiim…
Tugas reportase Sekolah Pemikiran Islam Natsir #2 Bandung

Kuliah SPI Natsir Bandung : Media Massa, Pendidikan, dan Sosial Budaya , 3 Modus Perang Pemikiran Kontemporer


Bandung, Kamis 17 Desember 2015 lalu, kuliah kedua Sekolah Pemikiran Islam Natsir (SPI) Bandung #2 dilaksanakan. Sebanyak 60 orang siswa yang mayoritas mahasiswa dari berbagai universitas di Bandung tersebut mengikuti kelas dengan tema “Ghazwl fikr”. Kuliah dilaksanakan di Ruang Seminar Besar Pusdai Bandung dengan pembicara  Akmal Sjafril, salah satu founder Sekolah Pemikiran Islam Natsir.
Menurut Abu Afnan, panggilan akrab Akmal Sjafril, saat ini umat Islam sedang dihadapkan pada perang pemikiran (Ghazwl fikr). Menurutnya, perang pemikiran memang tanpa kekerasan, namun memiliki “peluru” ilmu yang efeknya bisa lebih berbahaya dibanding perang menggunakan senjata. Dalam kuliah tersebut, Abu Afnan juga menyampaikan bahwa terdapat “3 Modus Perang Pemikiran (Ghazwl fikr) Kontemporer”. Ketiga modus yang dimaksud meliputi: media massa, pendidikan, dan sosial budaya. “… sosial budaya bisa menyesatkan jika kita tidak punya kepribadian” tambahnya lagi.
Kuliah diakhiri dengan tiga kesimpulan yang disampaikan oleh Abu Afnan. Menurut beliau, ghazwl fikr merupakan fenomena umum yang sudah sejak lama terjadi. Selain itu, banyak pihak berkepentingan yang sengaja melakukan ghazwl fikri. Terakhir adalah ghazwl fikri hanya bisa dimenangkan dengan ilmu. “..kita hanya bisa melawan ghazwl fikr dengan ilmu.”, tambahnya.
Kuliah yang berlangsung selama kurang lebih 90 menit tersebut menurut Raka Rendragraha Abiasa, selaku kepala sekolah SPI Natsir 2 berjalan dengan kondusif. “…Kondusif, peserta antusias, apalagi pas tanya jawab.” jawab Raka ketika ditanya kondisi perkuliahan. “Semoga semua peserta, dengan pengetahuan tentang ghazwl fikr ini seenggaknya bisa membentengi diri dan keluarganya dari serangan-serangan pemikiran pihak-pihak yang mau merusak Islam. Seenggaknya, sekedar tahu mana pemikiran menyimpang, itu sudah lumayan.” harap mahasiswa jurusan Psikologi UPI angkatan 2012 ini.

Anisa Martiana B1502039







Jumat, 11 Desember 2015 0 komentar

Reportase SPI ke-1

Bismillahirrahmaanirrahiim

Pertemuan Perdana Sekolah Pemikiran Islam Natsir Bandung :  Aktivis yang Terampil Menulis


Kamis, 10 Desember 2015 lalu akan menjadi sejarah baru bagi para pemuda aktivis Sekolah Pemikiran Islam Natsir (SPI)  Bandung.  Pasalnya, pada malam hari sekitar pukul 18.30 WIB, Sekolah Pemikiran Islam Bandung angkatan ke-2 resmi dibuka. Acara tersebut sekaligus mengawali pertemuan perdana perkuliahan. Kegiatan yang berlokasi di Ruang Seminar Besar PUSDAI Jabar tersebut dihadiri oleh sekitar 50-an pemuda yang telah terseleksi untuk mengikuti jalannya perkuliahan SPI. SPI Natsir Bandung akan dilaksanakan dalam bentuk perkuliahan setiap Kamis tiap minggunya sampai dengan Maret 2016 mendatang.

Kegiatan SPI ini didukung oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provinsi Jabar. Menurut Kepala BAZNAS Prov. Jabar, H.Arif Ramdhani MH, kegiatan SPI memiliki tujuan yang sama dengan salah satu program BAZNAS, yaitu mencetak dai berkualitas yang siap tempur di dunia modern dewasa ini. Hal ini senada dengan yang disampaikan Akmal Sjafril, selaku salah satu pendiri SPI, SPI Natsir ini dibentuk dengan tujuan agar para aktivis dakwah memiliki bekal pemikiran yang mumpuni untuk bisa terjun berjuang di medan dakwah.

Selain menambah khasanah pemikiran Islam bagi para pesertanya, SPI Natsir juga melatih agar para peserta terampil dalam menulis. Hal ini tampak dari tugas reportase dan karya ilmiah yang harus dikerjakan setiap minggunya pasca perkuliahan. Menurut Kang Akmal, tugas tersebut diperlukan karena banyak aktivis Islam yang kurang mumpuni dalam menulis, khususnya menulis secara ilmiah. Padahal, informasi dan pemikiran yang salah dan menyesatkan banyak bertebaran di masyarakat. Dengan kemampuan menulis dari para pemikir Islam dan aktivis dakwah, dapat menjadi penyeimbang arus informasi yang beredar di masyarakat.

Kegiatan yang diikuti peserta yang didominasi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta di kota Kembang tersebut diakhiri dengan foto bersama. Acara selesai pada pukul 21.30 WIB.

Anisa Martiana

PR pertama sebagai siswa SPI Natsir Bandung. Reportase ngalor ngidul, huhu :'(
 
;